Selasa, 29 Desember 2009

TUGAS SEMESTER 4

EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM SMP TERBUKA DI KABUPATEN 
WONOGIRI
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata kuliah Evaluasi Kebijakan Pendidikan

Dosen Pengampu :
1. Mami Hajaroh, M.Pd












Oleh :
Bakhtiardi Putra S 07110241001




PROGRAM STUDI ANALISIS KEBIJAKAN PENDIDIKAN
JURUSAN FILSAFAT SOSIOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2009
BAB I 
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG 
 Pencanangan wajib belajar Sembilan tahun oleh presiden pada tanggal 2 Mei 1994, mengandung implikasi pentingnya sekolah menengah pertama terbuka sebagai salah satu pola yang diunggulkan untuk mensukseskan keberhasilan wajib belajar pendidikan dasar Sembilan tahun. SMP terbuka merupakan subsitem pendidikan jalur sekolah SMP yang menggunakan kurikulum sama dengan SMP regular, tetapi dengan memamnfaatkan modul sebagai media utama dan sebagai bahan ajar mandiri.
 Program wajib belajar pendidikan dasar Sembilan tahun diselenggarakan melalui jalur sekolah maupun jalur luar sekolah. Target yang diharapkan adalah sejumlah anak usia 7-15 tahun dapat menyelesaikan pendidikan sampai SMP. Namun kenyataannya tidak seluruh siswa yang telah menyelesaikan pendidikannya pada tingkat sekolah dasar melanjutkan kejenjang berikutnya yaitu SMP. Ini dapat disebabkan oleh berbagai factor. Salah sat solusi untuk anak-anak yang tidak dapat melanjutkan ke SMP dapat menempuh pendidikan alternative, yakni melalui system SMP terbuka.
 System pendidikan SMP terbuka dikatakan terbuka karena 2 hal yaitu : (1) system SMP terbuka member kesempatan yang kebih luas bagi anak – anak yang ingin belajar tetapi tidak daoat memasuki sekolah regular yang disebabkan oleh fajtor waktu, geografi, social, ekonomi dsb. (2) SMO terbuka tidak selalu terikat dengan ketentuan-ketentuan yang belaku pada pendidikan regular, jadwal dan temoat kegiatan belajar mengajar dapat diatur oleh siswa sendiri atau bersama guru pamong / guru bina. 
 Selama ini persepsi siswa tentang SMP terbuka masih belum positif, sebagaian dari mereka memandang bahwa SMP terbuka adalah seolah yang kurang bermutu, karena siswa- siswa yang masul di SMP terbuka adalah dari keluarga yang tidak mampu , mereka tidak menggunakan seragam, kurang memiliki disiplin yang baik. bagi siswa yang berasala dari keluarga yang tidak mampu masuk SMP terbuka dalah pilihan terakhir setelan mereka tidak diterima si SMP negeri,
 Begitu juga yang terjadi didaerah Wonogiri, kebanyakan masyarakat menilai bahwa kualitas SMP Terbuka jauh dibawah SMP Reguler. Ini dikarenakan siswa yang belajar di SMP Terbuka adalah siswa buangan yang tidak diterima di SMP Reguler atau Negri. Begitu negatifnya pandangan masyarakat Wonogiri terhadap SMP terbuka maka perlu hendaknya masyarakat Wonogiri mengetahui lebih jelas mengenai SMP Terbuka.
 Siswa dari SMP terbuka masih dapat melakasanakan kegiatan sehari-harinya seperti memabntu orang tua di sawah, berkebun, pergi keladang, dan memabntu kepasar. Semua dapat belajar disela-sela kegiatannya dengan baha belajar mandiri berupa modul.salah satu cara menyampaikan bahan ajar dalam system belajar mandiri di SMP terbuka adalah modul. Modul yang berfungsi membimbing siswa SMP terbuka perlu mempunyai motivasi belajar yang tinggi agar sekolahnya berhasil. 
 Kemandirian belajar merupakan ciri utama dalam kegiatan pembelajaran di SMP terbuka. Orang tua dan guru pamong hanya sebagai fasilitator dan motivator. Namun dalam kenyataanya siswa belum dapat menjalankan belajar mandiri dalam arti yang sebenarnya. Sehingga guru pamong mempunhyai andil besar bagi siswa agar dapat memahami modul dengan baik. dan kegiatan diskusi maupaun mengerjakan tugaspun dirasa juga masih rendah.
 Siswa sebagai komponenutama dalam program SMP terbuka masih kurang memahami relevansi manfaat SMP terbuka. Hal ini berakibat rendahnya partisipasi siswa dalam mengikuti program pembelajaran si SMP terbuka. Selain itu peran guru bina dan guru pamong baik dalam pengelolaan maupun dalam proses pembelajaran masih kurang. 
 Berdasar permasalahan dan pertimbangan hal-hal diatas maka evaluasi terhadap pelaksanaan program SMP terbuka perlu dilaksanakan. Hasilnya diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dan pertimbangan sebagai alternative solusi atau pemecahan masalah.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas maka dapat diambil suati identifikasi masalah sebagai berikut : 
1. Rendahnya tingkat keberhasilan siswa dalam untuk menyelesaikan pendidikan sambil bekerja,
2. Rendahnya pemahaman siswa terhadap relevansi program SMP terbuka
3. Rendahnya partisipasi siswa dalam mengikuti program pembelakajaran SMP terbuka
4. Kurangnya peran gurubina dan guru pamong dalam berlangsungnya kegiatan pembelajaran
5. Kurangnya pengelolaan, ketersediaan sarana dan prasarana penunjang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
6. Kurangnya pemahaman siswa terhadap manfaat program SMP terbuka 
C. PEMBATASAN MASALAH
Dari keterangan latat belakang masalah dan identigikasi masalah dapat diambil suatu pembatasan masalah agar isi darp proposal dapat terfokus pada suatu masalah. Adapun pembatasan masalah adalah sebagai berikut :
1. Relevansi program SMP terbuka dengan kebutuhan siswa
2. Pengelolaan dan ketersediaan sarana dan prasarana yang menunjang pelaksanaan program SMP terbuka.
3. Proses pembelajaran SMP terbuka
4. Manfaat SMP terbuka bagi siswa
Relevansi program SMP terbuka dengan kebutuhan siswa merupakan suatu Context yang meliputi tujuan diadakannya program SMP terbuka, kelayakan program SMP terbuka, dan bentuk kegiatan di SMP terbbuka itu apa saja. Sehingga dapat diketahui relevansi prigram SMP terbuka dengan kebutuhan yang siswa perlukan.
  Iput (1) kesiapan sekolah sebelum pelaksanaan dan perencanaan program. (2) kesiapan pengelola (pendidik dan tenaga kependidikan) dan siswa dalam pelaksanaan program SP terbuka sehingga dapat diketahui bahwa pengelolaan dan persiapan sarana dan prasarana pelaksanaan program SMP terbuka sudah siap
 Proses yang meliputi aktivitas guru dan siswa di SMP terbuka, seperti apa kerjasama yang terjadi antara guru dan siswa, motivasi apa saja yang telah diberikan guru kepada siswa, kemudian strategi seperti apa sehingga siswa dapat menerima materi pembelajaran dengan baik sehingga dapat diketahui bagaimana proses berlangsungnnya kegiatan belajar mengajar yang terjadi di SMP terbuka.
Product ditujukan pada evaluasi terhadap hasil pembelajaran di SMP terbuka sehingga dapat diketahui apakah apa yang telah siswa dapatkan di SMP terbuka dapat berpengaruh pada kehidupan peserta didik.
D. PERUMUSAN MASALAH
Dari berbagai uraian diatas baik dalam latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembataan masalah maka untuk memperjelas ruang lingkup masalah maka perlu dirumuskan suatu rumusan masalah yaitu : 
1. Seberapa baik relevansi program SMP terbuka dengan kebutuhan siswa ?
2. Seberapa baik pengelolaan dan ketersediaan sarana dan prasarana penunjang pelaksanaan program SMP terbuka ?
3. Seberapa baik proses pembelajaran yang berlangsung di SMP terbuka?
4. Seberapa baik program SMP terbuka bagi siswa?
E. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan Perumusan Masalah diatas maka tujuan diadakannya penelitian ini adalah : 
1. Untuk mengetahui seperti apa relevansi program SMP terbuka bagi kebutuhan siswa.
2. Untuk mengetahui seperti apa pengelolaan dan ketersediaan sarana dan prasarana penunjang pelaksanaan program SMP terbuka
3. Untuk mengetahui bagaimana proses belajar mengajar yang terjadi di SMP terbuka
4. Untuk menemukan seberapa besar manfaat program SMP terbuka bagi siswa
F. KEGUNAAN PENELITIAN
a. Dinas pendidikan
Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan dan member kebijakan pengembangan program SMP terbuka ini agar lebih baik.


b. Pelaksana
Dengan adanya penelitian ini maka pihak pelaksana dapat mengetahui apa saja yang kurang dalam pelaksanaan program SMP terbuka ini sehingga nantinya dapat dibenahi hal-hal yang kurang dalam SMP terbuka ini dan akhirnya SMP terbuka dapat menjadi lebih baik.
c. Masyarakat
Masyarakat dapat lebih mengetahui bagimana program SMP terbuka ini berlangsung sehingga pandangan-pandangan miring mengenai SMP terbuka tidak lagi keluar dan dapat lebih mempercayakan anaknya untuk bersekolah di SMP terbuka,


BAB II
Kajian teori
A. belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan istilah kunci yang paling vital dalam kehidupan manusia khususnya dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar tak pernah ada pendidikan. Proses belajar berlangsung di sepanjang kehidupan manusia, dapat terjadi kapan saja dan di mana saja.
Apakah belajar itu ?
1. Upaya untuk dapat melakukan kegiatan fisik.
2. Upaya untuk dapat melakukan kegiatan mental.
a) Kegiatan mental yang lebih banyak menuntuk logika
b) Kegiatan mental yang terkait dengan tatanilai baik agama maupun budaya
3. Upaya dapat melaksanakan kegiatan fisik dan mental secara bersamaan
Proses belajar terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya. Menurut Cronbach, belajar merupakan perubahan yang relatif permanen dalam hal perilaku, pemahaman atau emosi (seperti minat, sikap) sebagai akibat dari adanya pengalaman. Semetara itu, Gagne mendefinisiikan belajar sebagai perubahan disposisi atau kapabilitas seseorang yang terjadi pada kurun waktu tertentu yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan.
 Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan belajar adalah kegiatan yang dilakukan untuk lebih mengetahui suatu hal baik dalam bentuk kegiatan fisik maupun kegiatan yang memerlukan mental sehingga dapat diketahui bahwa seseorang dapat berubah berdasarkan belajar dari apa yang telah ia pelajari.
 Istilah belajar sangat erat kaitannya dengan istilah pembelajaran sedangkan pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan dimana guru (pengajar) dan murid (pembelajar) berinteraksi, membicarakan suatu bahan atau melakukan suatu aktivitas, guna mencapai tujuan yang dikehendaki. Atau dapat juga dikatakan pembelajaran sebagai suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur, yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.
b. Teori Belajar
 Teori-teori belajar sangatlah banyak dan kebanyakan berasal dari aliran-aliran psikologi. Adapun teori-teori belajar adalah sebagai berikut :
1. Teori behaviorisme
Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
2. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget
Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi.
Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan
3. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.
4. Teori Belajar Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:
1) Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”.
2) Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).
3) Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces, gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.
4) Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.
5. Teori Belajar Mandiri
Istilah belajar mandiri sering dikaitkan dengan sistem pendidikan terbuka, karena pada umumnya sistem pendidikan terbuka menerapkan konsep belajar mandiri. Istilah ini digunakan untuk membedakannya dengan konsep belajar pada umumnya yang tergantung pada kendali dan arahan guru. Dalam sistem pendidikan terbuka, sebagian besar kegiatan belajar siswa dilakukan siswa secara mandiri, dengan bimbingan terbatas dari guru. Hal ini memunculkan konsekwensi adanya tuntutan kemandirian siswa dalam belajar.
Adapun belajar mandiri menurut Knowles yaitu mendefinisikan belajar mandiri sebagai suatu proses belajar dimana setiap individu dapat mengambil inisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain, dalam hal: mendiagnosa kebutuhan belajar, merumuskan tujuan belajar, mengidentifikasi sumber-sumber belajar (baik berupa orang maupun bahan), memilih dan menerapkan strategi belajar yang sesuai bagi dirinya, serta mengevaluasi hasil belajarnya. Pendapat senada dikemukakan oleh Kozma, Belle dan Williams. Menurut mereka, belajar mandiri merupakan suatu bentuk belajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan: tujuan belajar, sumber-sumber belajar dan kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhannya sendiri. Secara singkat dikatakan pula bahwa dalam belajar mandiri, siswa dapat berpartisipasi secara aktif dalam menentukan apa yang akan dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya.
Sementara itu, Cyril Kesten mendefinisikan belajar mandiri sebagai suatu bentuk belajar dimana pebelajar (dalam hubungannnya dengan orang lain) dapat membuat keputusan-keputusan penting yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya sendiri. Dengan maksud yang hampir sama, Miarso menjelaskan bahwa konsep dasar sistem belajar mandiri adalah pengaturan program belajar yang diorganisasikan sedemikian rupa sehingga tiap peserta didik dapat memilih dan atau menentukan bahan dan kemajuan belajar sendiri. Tonny Dodds mengartikan belajar mandiri sebagai suatu sistem belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar sendiri dari bahan cetak, program siaran dan bahan rekaman yang telah disiapkan sebelumnya. Menurut Dodds, konsep belajar mandiri menggambarkan adanya kendali belajar serta penentuan waktu dan tempat belajar yang berada pada diri siswa yang belajar.
Dalam sistem belajar mandiri, siswa tidak harus selalu belajar sendiri-sendiri atau sendirian. Siswa yang belajar mandiri tidak berarti harus terlepas sama sekali dengan pihak lain. Dalam belajar mandiri, siswa selain belajar secara individual bisa juga secara berkelompok dengan siswa lain. Bahkah dalam hal-hal tertentu dimungkinkan pula untuk meminta bantuan guru, tutor atau pihak lain yang dianggap bisa membantu. Pannen dkk. menegaskan bahwa ciri utama dalam belajar mandiri bukanlah ketiadaan guru atau teman sesama siswa, atau tidak adanya pertemuan tatap muka di kelas. Menurutnya, yang menjadi ciri utama dalam belajar mandiri adalah adanya pengembangan kemampuan siswa untuk melakukan proses belajar yang tidak tergantung pada faktor guru, teman, kelas dan lain-lain. 
Berdasarkan penjelasan di atas, tampak bahwa kata kunci dalam belajar mandiri yaitu adanya inisiatif, tanggungjawab dan otonomi dari siswa untuk proaktif dalam mengelola proses kegiatan belajarnya. Dalam belajar, siswa tidak terus menerus menggantungkan bantuan, pengawasan dan pengarahan orang lain. Kondisi tersebut berbeda dengan kegiatan belajar konvensional dengan bimbingan guru, dimana siswa cenderung lebih bersifat reaktif dalam proses belajar yang dikendalikan oleh guru. Meskipun secara konseptual sistem belajar mandiri menuntut kemandirian belajar kepada siswa, namun dalam prakteknya hampir tidak ada program pendidikan yang memberikan otonomi penuh kepada peserta didiknya pada seluruh aspek belajar.
Dalam pelaksanaannya, konsep belajar mandiri dikembangkan dengan rambu-rambu seperti :
1) Adanya pilihan materi belajar sesuai kebutuhan peserta didik dan tersaji dalam beraneka bentuk
2) Pengaturan waktu belajar yang luwes sesuai dengan kondisi masing-masing peserta didik
3) Kemajuan belajar dipantau oleh berbagai fihak dan dapat dilakukan kapan saja peserta didik merasa siap
4) Lokasi belajar dipilih sendiri oleh peserta didik
5) Dilakukannya diagnonis kemampuan awal dan kebutuhan belajar peserta didik, serta remidiasi bila kemampuan kurang atau pengecualian jika kemampuan sudah dikuasai
6) Evaluasi belajar dilakukan dengan berbagai cara dan bentuk, sesuai kondisi peserta didik
7) Pilihan berbagai bentuk kegiatan belajar dan pembelajaran sesuai dengan kondisi peserta didik.
B. Program SMP Terbuka
SMP Terbuka yang dirintis sejak tahun pelajaran 1978/1979 merupakan sekolah lanjutan tingkat pertama yang dirancang khusus untuk melayani para anak tamatan SD/MI/sederajat siswa usia 1315 tahun yang tidak dapat mengikuti pelajaran secara biasa pada SMP Reguler setempat, karena berbagai alasan yang antara lain : keadaan sosial ekonomi orang tua siswa, kendala transportasi dari dan ke SMP, kondisi geografis yang sulit, atau kurangnya waktu bagi anak untuk dapat belajar seperti anak-anak pada umumnya di SMP Reguler. Berbagai ragam kendala tersebut merupakan fenomena dan gambaran secara nyata dari kebanyakan siswa SMP Terbuka yang sebenarnya tetap berkeinginan untuk belajar hingga meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi. 
Adapun Komponen SMPT sama dengan SMP Reguler. Perbedaannya hanya terletak pada strategi pembelajarannya. Komponen sistem SMPT meliputi siswa, kurikulum, dan proses pembelajaran, fasilitas belajar, tenaga kependidikan da penilaian hasil belajar.
1) Siswa
Calon siswa SMP Terbuka diutamakan anak-anak yang memenuhi ketentuan sebagai berikut :
 Lulusan SD atau MI atau setara
 Berusia maksimal 18 tahun
 Anak putus SLTP/MTs di kelas I yang masih ingin melanjutkan ke SMP.
2) Kurikulum
SMP Terbuka menggunakan kurikulum SMP yang berlaku. Dari garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) kurikulum SMP, dikembangkan lagi menjadi Garis Besar Isi Program Media (GBIPM) sebagai acuan untuk mengembangkan berbagai macam media belajar pada SMP Terbuka. GBIPM ini sering kali disebut sebagai kurikulum SMP Terbuka.
3) Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran pada SMPT dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu; belajar mandiri dan atau berkelompok di Tempat Kegiatan Belajar (TKB) dan tutorial tatap muka di SMP Induk atau di tempat lain yang telah disepakati. Kegiatan belajar di TKB dilaksanakan 4-5 hari dalam seminggu, minimal 180 menit perharinya. Kegiatan belajar di TKB, siswa dibimbing dan diarahkan oleh seorang guru yang di sebut guru Pamong. Tugas guru pamong bukan mengajar, tetapi bertugas untuk mengelola, mengarahkan, membimbing, dan memotivasi siswa agar belajar. Kegiatan belajar tutorial lebih diutamakan untuk (1) memecahkan kesulitan-kesulitan siswa pada waktu belajar mandiri dan atau berkelompok di TKB, dan (2) melaksanakan kegiatan belajar yang memerlukan peralatan yang tidak mungkin dilakukan di TKB seperti Pratikum IPA.
4) Bahan dan Fasilitas Belajar
Bahan belajar utama SMPT adalah modul cetak. Modul ini disusun secara sederhana supaya dapat dipelajari secara mandiri atau sendiri oleh siswa. Dengan menggunakan modul siswa dapat memantau kemajuan belajarnya sendiri. Modul cetak ini ditunjang pula dengan media Audiovisual yang berupa program radio, kaset audio, program TV, kaset video, program VCD dan lain-lain.
SMP Terbuka pada dasarnya menggunakan fasilitas belajar yang ada pada SMP Induk atau yang sudah ada, seperti ruang belajar, perpustakaan, laboratorium, ruang ketrampilan, lapangan olahraga dan sebagainya. Semua ruang kelas SMP Negeri/Swasta sebagai induk SMP Terbuka dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh SMP Terbuka.
Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa bahan dan fasilitas belajar pada SMPT terdiri dari berbagai macam sumber baik yang bersifat paper based seperti modul maupun yang bersifat lebih modern seperti media Audiovisual yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber ataupun media dalam proses pembelajaran pada SMP Terbuka.
5) Tenaga Kependidikan
Pada SMP Terbuka mempunyai tenaga kependidikan, yaitu kepala Sekolah, wakil kepala sekolah, guru mata pelajaran (guru Bina), guru BK, guru Pamong, guru pamong khusus, dan tenaga tata usaha. Kepala SMP Induk otomatis menjadi Kepala Sekolah SMP Terbuka, untuk melaksanakan tugasnya sehari-hari kepala sekolah SMPT dibantu oleh seorang wakil kepala sekolah yang diangkat dari salah satu guru senior pada SMP tersebut. Untuk pelaksanaan belajar mengajar melalui tatap muka, SMP Terbuka mempunyai sejumlah guru bina yang diangkat dari guru-guru mata pelajaran yang ada di SMP tersebut. Guru Bina pada SMP Terbuka minimal setiap mata pelajaran (yang ada dalam kurikulum) di bina oleh seorang Guru Bina.
6) Penilaian Hasil Belajar
Pada SMPT dikenal berbagai macam penilaian, yaitu tes akhir modul, tes akhir unit (akhir beberapa modul), akhir semester, dan ujian akhir. Tes akhir modul dilakukan apabila siswa telah menyelesaikan suatu modul. Siswa yang memperoleh nilai tes akhir modul minimal 65 atau 65% diperbolehkan untuk melanjutkan ke modul berikutnya. Untuk menentukan kelulusan siswa SMP Terbuka dilaksanakan ujian akhir yang biasa disebut EBTANAS atau UAN. Pada pelaksanaan tes akhir semester dan ujian akhir, siswa SMP Terbuka dicampur dengan siswa SMP Induknya. Bagi siswa SMP Terbuka yang lulus ujian akhir diberikan Surat Kelulusan yang sama dan diperlakukan sama dengan Surat Kelulusan siswa SMP reguler.
C. Evaluasi 
a. Pengertian Evaluasi
Dalam sebuah buku yang berjudul teknik evaluasi pendidikan karya M.chabib thoha, beliau mengatakan bahwa Evaluasi berasal dari kata evaluation yang berarti suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sesuatu, apakah sesuatu itu mempunyai nilai atau tidak. Menurut istilah evaluasi berarti kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur tertentu guna memperoleh kesimpulan. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan kenyataan mengenai proses pembelajaran secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan terhadap peserta didik dan sejauh apakah perubahan tersebut mempengaruhi kehidupan peserta didik. (dikutip dari Bloom et.all 1971). Menurut Djemari Mardapi (2004: 19) evaluasi adalah proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar kelas atau kelompok.
Dari pendapat di atas, ada beberapa hal yang menjadi ciri khas dari evaluasi yaitu: (1) sebagai kegiatan yang sistematis, pelaksanaan evaluasi haruslah dilakukan secara berkesinambungan. Sebuah program pembelajaran seharusnya dievaluasi disetiap akhir program tersebut, (2) dalam pelaksanaan evaluasi dibutuhkan data dan informasi yang akurat untuk menunjang keputusan yang akan diambil. Asumsi-asumsi ataupun prasangka. bukan merupakan landasan untuk mengambil keputusan dalam evaluasi.
Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.
Evaluasi pendidikan merupakan proses yang sistematis dalam dan Mengukur tingkat kemajuan yang dicapai siswa, baik ditinjau dari norma tujuan maupun dari norma kelompok dan Menentukan apakah siswa mengalami kemajuan yang memuaskan kearah pencapaian tujuan pengajaran yang diharapkan. evaluasi pendidikan sebagaimana dikatakan Gronlund (1990: 5) merupakan proses yang sistematis tentang mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan informasi untuk menentukan sejauhmana tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa. Kegiatan evaluasi dalam pendidikan tidak pernah terlepas dari tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Evaluasi pendidikan mencakup dua sasaran pokok, yaitu : evaluasi makro (program) dan evaluasi mikro (kelas).
Adapun pengertian evaluasi program adalah langkah awal dalam supervisi, yaitu mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan pemberian pembinaan yang tepat pula. Evaluasi program sangat penting dan bermanfaat terutama bagi pengambil keputusan. Alasannya adalah dengan masukan hasil evaluasi program itulah para pengambil keputusan akan menentukan tindak lanjut dari program yang sedang atau telah dilaksanakan. Adapun kebijakan yang dapat dilakukan berdasarkan hasil evaluasi suatu program, keputusan yang diambil diantaranya: Menghentikan program, karena dipandang program tersebut tidak ada manfaatnya atau tidak dapat terlaksana sebagaimana yang diharapkan. Merevisi program, karena ada bagian-bagian yang kurang sesuai dengan harapan. Melanjutkan program, karena pelaksanaan program menunjukkan segala sesuatunya sudah berjalan dengan harapan. Menyebarluaskan program, karena program tersebut sudah berhasil dengan baik maka sangat baik jika dilaksanakan lagi di tempat waktu yang lain.
b. Model-model Evaluasi
Model evaluasi ialah model desain evaluasi yang dibuat oleh ahli-ahli atau pakar-pakar evaluasi yang biasanya dinamakan sama dengan pembuatnya atau tahap pembuatannya. Evaluasi juga dibedakan berdasarkan waktu pelaksanaannya, kapan evauasi dilakukan, untuk apa evaluasi dilakukan dan acuan serta paham yang dianut oleh evaluator dan berbagai jenis evaluasi program yakni :
a) Model Discrepancy
Discrepancy merupakan model yang dikembangkan oleh Provus. Model ini melihat lebih jauh tentang adanya kesenjangan (Discrepancy) yang ada dalam setiap komponen yakni apa yang seharusnya dan apa yang secara riil telah dicapai. Evaluasi kesenjangan program, begitu orang menyebutnya. Kesenjangan program adalah sebagai suatu keadaan antara yang diharapkan dalam rencana dengan yang dihasilkan dalam pelaksanaan program. Evaluasi kesenjangan dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara standard yang sudah ditentukan dalam program dengan penampilan aktual dari program tersebut.
Adapun tahapan dalam penyusunan evaluasi model disperancy adalah (1) Penyusunan Desain, (2) Tahap Penetapan Kelengkapan Program Yaitu melihat apakah kelengkapan yang tersedia sudah sesuai dengan yang diperlukan atau belum, (3) Tahap Proses Dalam tahap ketiga dari evaluasi kesenjangan ini adalah mengadakan evaluasi, tujuan-tujuan manakah yang sudah dicapai. Tahap ini juga disebut tahap “mengumpulkan data dari pelaksanaan program”, (4) Tahap Pengukuran Tujuan (Product) Yakni tahap mengadakan analisis data dan menetapkan tingkat output yang diperoleh, (5) Tahap Pembandingan (Programe Comparison) Yaitu tahap membandingkan hasil yang telah dicapai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dalam tahap ini evaluator menuliskan semua penemuan kesenjangan untuk disajikan kepada para pengambil keputusan, agar mereka (ia) dapat memutuskan kelanjutan dari program tersebut.


b) Model Stake
Menurut Robert E. Stake dalam buku Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi oleh Dr. Farida Yusuf Tayibnapis, M. Pd. Bahwa analisis proses evaluasi yang dikemukakannya membawa dampak yang cukup besar dalam bidang ini dan meletakkan dasar yang sederhana namun merupakankonsep yang cukup kuat untuk perkembangan yang lebih jauh dalam bidang evaluasi. Model ini dikembangkan oleh Robert E.Stake. Menurut ulasan tambahan yang diberikan oleh Fernandes (1984:8), model stake menekankan pada adanya pelaksanaan dua hal pokok, yaitu: 
1) Deskripsi
Berkaitan atau menyangkut dua hal yang menunjukkan posisi sesuatu (yang menjadi sasaran evaluasi), yaitu apa maksud/tujuan yang diharapkan oleh program, dan pengamatan/akibat, atau apa yang sesungguhnya terjadi atau apa yang betul-betul terjadi.
2) Pertimbangan 
Yang menunjukkan langkah pertimbangan, yang dalam langkah tersebut mengacu pada standar. Menurut stake, ketika evaluator tengah mempertimbangkan program pendidikan, mereka mau tidak mau harus melakuan dua perbandingan, yaitu (1) Membandingkan kondisi hasil evaluasi program tertentu dengan yang terjadi di program lain, dengan objek sasaran yang sama, (2) Membadingkan kondisi hasil pelaksanaan program dengan standar yang di peruntukkan bagi program yang bersangkutan, didasarkan pada tujuan yang akan dicapai. Model Stake juga membedakan antara tiga tahap dalam evaluasi program yaitu (1) anteseden-yang diartikan sebagai konteks, (2) transaksi yang diartikan sebagai proses, (3) outcomes-yang diartian sebagai hasil.
c) Model Tyler
Tyler mengembangkan model evaluasi yang diberi nama Goal Oriented Evaluation. Model ini adalah model evaluasi yang muncul paling awal. Objek pengamatan pada model ini adalah tujuan dari program yang sudah ditetapkan jauh sebelum program dimulai. Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan, terus menerus, mencek sejauh mana tujuan tersebut sudah terlaksana di dalam proses pelaksanaan program. Dalam mengevaluasi ia lebih menekankan pentingnya menjaga tujuan tersebut tetap bersifat umum, tapi tidak terlalu umum sehingga seseorang tidak dapat merumuskan suatu bentuk penilaian yang tepat. Ia tidak terjebak dalam mikro-spesifitas (micro-specifity) untuk mencapai reliabilitas pengujian. Prnsip yang dipegang oleh Tyler adalah mengevaluasi keefektifan dari planning atau rencana dan tindakan. 
Program pembelajaran yang mewakili jenis program pemrosesan ini merupakan sebuah proses pengalihan ilmu dan pembimbingan sebelum para guru mulai melakukan kegiatan mengajar, harus membuat persiapan mengajar yang diarahkan pada pencapaian tujuan. Para evaluator dapat mengecek apakah rencana yang dibuat oleh guru betul betul sudah benar mengarahkan kegiatan pada tujuan. Selanjutnya rencana tersebut diimplementasikan dalam pelaksanaan pembelajaran melalui langkah-langkah yang berkesinambungan. Model evaluasi yang dikembangkan oleh Tyler banyak diterapkan untuk mengevaluasi kurikulum.
d) Model CIPP
Model CIPP ini dikembangkan oleh Stuffbleam dan kawan-kawan (1967) di Ohio State University. CIPP merupakan kepanjangan dari Context Input Process Product. Keempat kata yang disebutkan dalam singkatan CIPP tersebut merupakan sasaran evaluasi, yang tidak lain adalah komponen dari proses sebuah program kegiatan. Model CIPP merupakan model untuk menyediakan informasi yang berorientasi kepada pemegang keputusan. Model ini membagi evaluasi dalam empat macam komponen, yaitu: konteks (context), masukan (input), proses (process) dan produk (product).
1. Context 
Konteks evaluasi ini membantu merencanakan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai oleh program dan merumuskan tujuan program, Evaluasi konteks juga mendiagnostik suatu kebutuhan yang selayaknya tersedia sehingga tidak menimbulkan kerugian jangka panjang (Isaac and Michael: 1981), Meliputi penggambaran latar belakang program yang dievaluasi, memberikan perkiraan kebutuhan dan tujuan program, menentukan sasaran program, dan menentukan sejauh mana tawaran ini cukup responsif terhadap kebutuhan yang sudah diidentifikasi (Sarah McCann). 

2. Input
Meliputi kegiatan pendeskripsian masukan dan sumberdaya program, membandingkan program yang akan dilakukan dengan program lain, perkiraan untung/rugi, dan melihat alternatif prosedur dan strategi apa yang perlu disarankan dan dipertimbangkan (Guba & Stufflebeam, 1970), Singkatnya, input merupakan model yang digunakan untuk menentukan bagaimana cara agar penggunaan sumberdaya yang ada bisa mencapai tujuan serta secara esensial memberikan informasi tentang apakah perlu mencari bantuan dari pihak lain atau tidak. Aspek input juga membantu menentukan prosedur dan desain untuk mengimplementasikan program.
3. Process
Evaluasi proses melayani keputusan implementasi, yaitu membantu keputusan sampai sejauh mana program telah dilaksanakan, Melihat pada kegagalan-kegagalan selama implementasi, bertindak untuk memperbaiki kualitas proses dari program yang berjalan, serta memberikan informasi sebagai alat untuk menilai apakah sebuah proyek relatif sukses/gagal.
4. Product
Evaluasi produk merupakan kumpulan deskripsi dan “judgement outcomes” dalam hubungannya dengan konteks, input, dan proses, kemudian di interprestasikan harga dan jasa yang diberikan (Stuflebeam and Shinkfield: 1986), Meliputi penentuan dan penilaian dampak umum dan khusus suatu program, mengukur dampak yang terantisipasi, mengidentifikasi dampak yang tak terantisipasi, memperkirakan kebaikan program, serta mengukur efektivitas program. Singkatnya, evaluasi produk didesain untuk mengukur dan menginterpretasikan pencapaian.

Bab iii
Metodologi penelitian
A. Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di kabupaten Wonogiri. Mengapa memilih daerah wonogiri karena banyak pandangan masyarakat wonogiri terhadap sekolah terbuka khusunya SMP Terbuka masih miring. Sedangkan watu yang digunakan adalah pada bulan agustus dan oktober karena pada bulan ini merupakan bulan penerimaan siswa baru.
B. Jenis penelitian dan Metode Evaluasi
1. Jenis Penelitian
Ditinjau dari tujuan, penelitian ini mengevaluasi pelaksanaan program SMP terbuka sehingga penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian evaluative. Penelitian evaluative ini tidak diarahkan untuk pengkajian hipotesis dan tidak menguji hubungan antara variable, tetapi ditekankan pada pengumpulan data untuk mendsekriptifkan keadaan yang sesungguhnya yang terjadi dilapangan.
2. Pendekatan evaluasi
Berdasarkan permasalahan penelitian yang diajukan, penelitian ini termasuk dalam penelitian evaluasi karena berusaha mengevaluasi pelaksanaan suatu program yaitu SMP Terbuka. Sedangkan jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini termasuk penelitian survey karena data penelitian ini bersifat nyata dan dapat diamati secara langsung.
3. Kriteria Evaluasi
Pada kegiatan evaluasi ini adalah untuk mengetahui keefektifitas pelaksanaan program SMP Terbuka yang dilaksanakan di Kabupaten Wonogiri dengan mendasarkan pada komponen Context, Input, Process, Product.
a) Context
 Pada evaluasi context ditujukan untuk menilai persiapan dan pelaksanaan sosialisasi SMP Terbuka pada masyarakat serta dapat mengetahui apa yang dibutuhkan oleh siswa. Criteria ini dikatakan efektife apa bila masyarakat dapat mengetahui bahwa SMP terbuka bukanlah SMP yang bermutu rendah dan dapat mengetahui apa saja yang diperlukan siswa dalam proses belajat mengajar.
b) Input
 Pada evaluasi input ini ditujukan untuk menilai kesiapan guru bina, siswa, guru pembimbing, serta sarana dan prasarana yang mendukung berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Criteria ini dikatakan efektiv apabila guru bina dan guru pembimbing dapat mengetahui dan memahami konsep pendidikan terbuka, kemudian adanya keinginan siswa untuk mengikuti program SMP Terbuka, ketersediaan sarana dan prasarana untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pembelajaran, serta adanya dukungan dana untuk melaksanakan program tersebut.
c) Process
 Pada evaluasi prosses ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan proses kegiatan belajar mengajar di SMP Terbuka. Sasaran ini meliputi : kemampuan guru bina, kesiapan materi, pengelolaan dan kelayakan sarana prasarana dan bahan ajar, keakifan siswa dan guru serta factor pendukung dan penghambat. Criteria ini dikatakan efektif apabila guru bina bertindak sebagai fasilitator dan motivator serta dapat menguasai strategi pembelajaran yang dapat menarik perhatian siswa. Materi yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan siswa. Tercipta suasana pembelajaran yang mentenangkan, adanya partisipasi yang tinggi dari siswa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, kerjasama yang baik antara guru bina dan siswa serta dukungan dari orang tua siswa.
d) Product
 Penilaian produk dilakukan terhadap hasil yang diperoleh siswa yang diperoleh dalam pembelajaran dan setelah siswa mengikuti pembelajaran di program SMP Terbuka. Criteria ini dikatakan efektif bila siswa menguasai pengetahuan dan ketrampilan yang sudah di ajarkan di SMP Terbuka.
4. Metode Evaluasi
Dalam penelitian ini model yang digunakan adalah model evaluasi CIPP. Evaluasi CIPP yang dikembangkan oleh stufflebeam. Model ini terdiri dari 4 komponen evaluasi sesuai dengan nama model itu sendiri yang merupakan singkatan dari Context, Input, Process dan Product.
Evaluasi konteks (context evaluation) merupakan dasar dari evaluasi yang bertujuan menyediakan alasan-alasan (rationale) dalam penentuan tujuan. Evaluasi input (input evaluation) merupakan evaluasi yang bertujuan menyediakan informasi untuk menentukan bagaimana menggunakan sumberdaya yang tersedia dalam mencapai tujuan program. Evaluasi proses (process evaluation) diarahkan pada sejauh mana kegiatan yang direncanakan tersebut sudah dilaksanakan. Ketika sebuah program telah disetujui dan dimulai, maka dibutuhkanlah evaluasi proses dalam menyediakan umpan balik (feedback) bagi orang yang bertanggungjawab dalam melaksanakan program tersebut. Evaluasi product bertujuan mengukur dan menginterpretasikan capaian-capaian program. Evaluasi produk menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi pada input.
C. Populasi dan Sampel
 Populasi penelitian ini meliputi seluruh SMP Terbuka yang berada di Wonogiri, adapun jumlahnya adalah 13 SMP Terbuka yang tersebebar di berbagai kecamatan. Sedangkan sampel untuk penelitian ini adalah 7 SMP Terbuka.


DAFTAR PUSTAKA
Susilo, Joko, M. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Arikunto, Suharsimi. (2008). Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Yusuf, Farida. 2008. Evaluasi Pogram dan Instrumen Evaluasi. Jakarta: Rineka Cipta.
Worthen, B.R., & Sanders, J.R. Educational Evaluation: Theory and Practice.
Washington, Ohio: Charles A. Jones Publishing Company.
http://id.wikipedia.org/wiki/SMP_Terbuka
http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/opini/artikel.php?aid=13761
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/02/teori-teori-belajar/
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0606/28/jogja/25849.htm
http://koranpendidikan.com/artikel/1283/Gagal,-Kelulusan-Tidak-Mencapai-50.html
http://aristorahadi.wordpress.com/2008/03/19/smp-terbuka-menjangkau-anak-yang-tak-terjangkau-pendidikan-biasa/
http://aristorahadi.wordpress.com/2008/03/31/sikap-terhadap-sistem-pendidikan-terbuka/
http://aristorahadi.wordpress.com/2008/03/31/kemandirian-belajar-siswa-smp-terbuka/
http://www.koranpendidikan.com/artikel-1347.html
http://www.tiranus.net/?p=21
http://p124s.blogspot.com/2009/01/makalah-ilmu-pendidikan-tentang-model.html






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar